Translate

Selasa, 07 Agustus 2012

Wirata


Raden Rupa Kenca dan Kencaka Rupa , dan isteri prabu Matsapati Dewi Rekatawati , adalah anak-anak dari Palasara dengan Dewi Durgandini, yang terjadi dari birahi Raden Palasara saat mengobati penyakit bau amis yang ada ditubuh Dewi Durgandini. Ketika obat tersebut dibuang kelaut , bersama sperma Raden Palasara. maka dimakan oleh ikan dan beberapa penghuni laut tersebut.
Pecahan perahu menjadi Rajamala. Sedang Dewi Durgandini mempunyai saudara kembar , yaitu Raden Durgandana, yang selanjutnya setelah menjadi raja Wiratha bergelar Prabu Matsapati. Kedua kembar dampit Durgandini dan Durgandana adalah putra putri Prabu Basukiswara raja Wirata dengan Dewi Girita, seorang anak Bengawan Yamuna, hasil perkawinan dengan Gunung Arganila. Raden Durgandana yang bergelar Prabu Matswapati berumur panjang dan awet muda. Juga keturunannya
seperti Dewi Utari yang dipersunting Abimanyu, walau anak Harjuna itu sebenarnya buyut Utari yang tetap
kinyis-kinyis walau sebutannya mbah buyut.
Putera mahkota kerajaan Wirata, Arya Seta berbini Dewi Kanekawati, puteri Sang Hyang Narada. Walau bukan
raja, Arya Seta menguasai kadipaten Cemarasewu yang cukup luas Putera Wirata kedua bernama Arya Wratsangka , sakti dan beristeri Dewi Tirtawati puteri raja Tasikretna. Putera kedua ini juga menjadi adipati di Cemarajajar. Sedang putra yang lain bernama Raden Utara , dan berikutnya adalah Dewi Utari isteri Raden Abimanyu.
Kerajaan Wiratha adalah kerajaan yang didirikan oleh Dewa Wisnu, dengan dimulai dari Prabu Basurata yang
mengawini Dewi Bremaniyuta, anak Begawan Bremani putra Dewa Brahma. Selanjutnya Prabu Basurata berputra Prabu Basupati. Prabu Basupati dengan Dewi Anganti berputra tiga yaitu Arya Basunanda, Arya Basukesti dan Arya Basumurti. Arya Basunanda menggantikan Prabu Basupati tidak beberapa lama, karena dia lebih senang menjadi pendeta, apalagi dengan setelah puterinya Dewi Basundari kawin dengan gunung Arganila. Selanjutnya Wirata diperintah oleh Prabu Basukesti dan patih Basumurti. Sedang Prabu Basukiswara sendiri adalah putra dari Prabu Basukesti dengan Dewi Pancawati. Cerita dari Prabu Basukiswara akan saya ceritakan dalam cerita tersendiri.




Raden Rupa Kenca dan Kencaka Rupa , dan isteri prabu Matsapati Dewi Rekatawati , adalah anak-anak dari Palasara dengan Dewi Durgandini, yang terjadi dari birahi Raden Palasara saat mengobati penyakit bau amis yang ada ditubuh Dewi Durgandini. Ketika obat tersebut dibuang kelaut , bersama sperma Raden Palasara. maka dimakan oleh ikan dan beberapa penghuni laut tersebut.
Pecahan perahu menjadi Rajamala. Sedang Dewi Durgandini mempunyai saudara kembar , yaitu Raden Durgandana, yang selanjutnya setelah menjadi raja Wiratha bergelar Prabu Matsapati. Kedua kembar dampit Durgandini dan Durgandana adalah putra putri Prabu Basukiswara raja Wirata dengan Dewi Girita, seorang anak Bengawan Yamuna, hasil perkawinan dengan Gunung Arganila. Raden Durgandana yang bergelar Prabu Matswapati berumur panjang dan awet muda. Juga keturunannya
seperti Dewi Utari yang dipersunting Abimanyu, walau anak Harjuna itu sebenarnya buyut Utari yang tetap
kinyis-kinyis walau sebutannya mbah buyut.
Putera mahkota kerajaan Wirata, Arya Seta berbini Dewi Kanekawati, puteri Sang Hyang Narada. Walau bukan
raja, Arya Seta menguasai kadipaten Cemarasewu yang cukup luas Putera Wirata kedua bernama Arya Wratsangka , sakti dan beristeri Dewi Tirtawati puteri raja Tasikretna. Putera kedua ini juga menjadi adipati di Cemarajajar. Sedang putra yang lain bernama Raden Utara , dan berikutnya adalah Dewi Utari isteri Raden Abimanyu.
Kerajaan Wiratha adalah kerajaan yang didirikan oleh Dewa Wisnu, dengan dimulai dari Prabu Basurata yang
mengawini Dewi Bremaniyuta, anak Begawan Bremani putra Dewa Brahma. Selanjutnya Prabu Basurata berputra Prabu Basupati. Prabu Basupati dengan Dewi Anganti berputra tiga yaitu Arya Basunanda, Arya Basukesti dan Arya Basumurti. Arya Basunanda menggantikan Prabu Basupati tidak beberapa lama, karena dia lebih senang menjadi pendeta, apalagi dengan setelah puterinya Dewi Basundari kawin dengan gunung Arganila. Selanjutnya Wirata diperintah oleh Prabu Basukesti dan patih Basumurti. Sedang Prabu Basukiswara sendiri adalah putra dari Prabu Basukesti dengan Dewi Pancawati. Cerita dari Prabu Basukiswara akan saya ceritakan dalam cerita tersendiri.



Raden Rawan


Malam itu bulan menggantung sepenggal. Wilayah Giripurwa yang hampir separonya terdiri dari daerah pegunungan, meniupkan hawa dingin yang berselimut kabut. Bunyi kentongan dari beberapa rumah warga yang masih berpenghuni, bersusul bersautan dengan irama doro-muluk. Mulai dari suara yang paling jauh hinngga suara yang paling dekat.
Irama doromuluk adalah irama memukul kentongan mulai dari pukulan lembut dan pelan menuju ke pukulan keras dan cepat. Setelah pukulan tersebut mencapai tingkat suara yang paling keras dan tingkat kecepatan yang paling cepat, irama dikembalikan lagi menuju ke irama semula, yaitu lembut dan pelan. Jika dirasakan, suara kentongan doro-muluk ini seperti sebuah irama kidung yang dibawa angin malam, dari tidak jelas menjadi semakin jelas dan kembali lagi menjadi tidak jelas dan kemudian hilang. Kentongan irama doro-muluk ini biasanya menjadi pertanda bahwa suasana di sebuah wilayah tempat kentongan itu dipukul, dalam keadaan aman. Sehingga irama doro-muluk memberi suasana batin tentram.
Namun tidak untuk malam itu. suara doro-muluk yang di bunyikan warga yang masih tersisa, tidak untuk menggambarkan suara hati yang aman dan tenteram, melainkan merupakan sebuah jeritan permohonan untuk dibebaskan dari rasa takut dan cemas.
Ketakutan dan kecemasan dirasakan oleh seluruh rakyat Ekacakra, termasuk keluarga Resi Hijrapa. Malam itu, keluarga Resi Hijrapa, yang terdiri dari isteri dan ketiga anaknya belum dapat terlelap. Segunung rasa takut dan cemas menindih hati mereka. Hal tersebut berkaitan dengan keputusan raja yang memutuskan bahwa salah satu dari tiga remaja anak Resi Hijrapa dikorbankan untuk santapan raja.
Menurut tradisi negara Ekacakra, hari yang dipilih untuk mengadakan korban bakaran secara besar-besaran adalah hari Anggara Jenar atau Selasa Paing, yang jatuh pada bulan pertama pada setiap tahunnya. Dikatakan besar karena sesaji yang dikorbankan paling lengkap, termasuk satu diantaranya adalah ‘ingkung’ manusia.
Lima hari lagi waktunya telah tiba, Resi Hijrapa belum memastikan siapa diantara anaknya yang dipilih untuk dikorbankan. Karena ketidak berdayaan untuk menolak perintah raja dan juga ketidak teganya mengorbankan salah satu anaknya, ketenangan kewibawaan yang biasanya menjadi ciri khas bagi para resi, tak sedikitpun tersisa. Resi Hijrapa gusar pikirannya dan bingung hatinya. Walaupun dalam hati ia mempunyai kecenderungan untuk memilih, namun ia tidak berani menyatakan dihadapan anak-anaknya. Oleh karena kesulitannya, Resi Hijrapa membiarkan isteri dan ke tiga anaknya mengalami kecemasan yang berkepanjangan.
Dalam situasi yang tidak berpengharapan itulah, tiba-tiba Raden Rawan anak nomor dua menyatakan kesanggupannya untuk dijadikan korban bagi Prabu Dwaka. Mendengar kesanggupan Raden Rawan Resi Hijrapa, Nyai Resi dan dua saudaranya terharu. Jika mau jujur, dengan pernyataan kesanggupan Raden Rawan tersebut, Resi Hijrapa dibebaskan dari ketidakberdayaannya untuk memilih salah satu diantara ketiga anaknya. Namun bagaimanapun juga sebagai orang tua tentunya hatinya teriris, tatkala menyerahkan anaknya sebagai pangewan-ewan raja..
Dimata orang tua dan keluarga, raden Rawan tidak mempunyai keistimewaan. Selain tidak cukup tampan jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya Raden Rawan adalah anak yang paling pendiam dan sederhana. Namun dibalik itu semua sesekali waktu, terutama pada saat-sat yang sulit, muncul pribadi yang mengejutkan dan bahkan mecengangkan, yang tidak terduga sebelumnya
Seperti yang terjadi pada saat itu, malam dingin beku, dan embunpun mulai turun, tiba-tiba dihanggatkan oleh keberanian Raden Rawan untuk menghadapi Prabu Dwaka dan siap mati menjadi ‘tawur agung.” Resi Hijrapa ingin tahu apa yang mendasari keberanian anaknya tersebut. Dengan jujur raden Rawan mengatakan dihadapan Bapak, ibu, kakak serta adiknya.
“Bapak dan Ibu, maafkan anakmu ini, jika pernyataanku menyakitkan hati Bapak dan Ibu. Aku berani menghadapi Prabu Dwaka dan siap mati menjadi santapannya, kare di keluarga ini aku adalah anak yang paling tidak berarti. Menurut yang aku rasakan, bapak sangat menyayangi kakaku dan Ibu sangat mengasihi adikku. Sehingga jika aku yang dikorbankan keluarga ini akan segera lupa kesedihannya, lupa akan aku dan cepat pulih kembali”
“Rawaaaan! Ooh Rawaaaan!”
Hampir bersamaan Resi Hijrapa dan Nyai Resi menubruk Rawan anaknya. Kedua orang tua itu menangis seperti anak kecil. Pernyataan Rawan yang jujur dan polos itu.sungguh telah menyadarkan bahwa selama ini tanpa disengaja ia telah melakukan ‘mban cindhe, mban siladan.’ Mengemban anaknya yang satu dengan kain cindhe empuk dan halus, dan mengemban anak yang lainnya dengan siladan, sesetan bambu hitam yang tajam dan melukai. Resi Hijrapa dan Nyai Resi telah pilih kasih dalam mendidik dan mendampingi ke tiga anaknya. Layaklah jika padepokan Giripurwa ambyar diterpa badai ketakutan, karena guru utamanya saja tidak berhasil dalam mengatasi ketakutan dan membagi keadilan di dalam keluarga. Akibatnya para cantriknya pada pergi mengungsi dan sebagian menjadi bebahu desa di Kalurahan Kabayakan.
“Tidaaaak! Tidak anakku, engkau tidak boleh menjadi korban. Biar aku saja, orang tua ‘balilu’ yang tak tahu malu. Orang tua bangka yang tak banyak guna”. Resi Hijrapa mengakui segala kedunguannya. Namun Rawan tetap pada niatnya, bahwa ia ingin menjadi tumbal negara dan keluarga.
Suara gaduh di ruang tengah itu cukup menggangu Kunthi beserta anaknya yang numpang di emper bagian depan. Bahkan telinga Kunthi telah mendengar semua yang dibicarakan Keluarga Resi Hijrapa.
Bersamaan dengan suara kokok ayam, ketegangan keluarga Resi Hijrapa mulai reda. Mau tidak mau mereka harus mengakui kebenaran Raden Rawan. Bahwa untuk memperkecil bencana keluarga, dirinyalah yang harus dikorbankan. Kecuali jika Resi Hijrapa berani dan tegas menentang keputusan Prabu Dwaka, dan berani mengatakan bahwa hal tersebut adalah jahanam, aku tidak sudi untuk melaksanakan. Huh!
Ketika fajar nampak merekah diufuk timur, dan sinarnya mulai membagi terang dan kehidupan bagi yang jahat, bagi yang baik dan bagi siapa saja tanpa kecuali, keluarga Resi Hijrapa justru baru mulai terlelap dalam tidur. Entah karena semalamnya belum tidur atau karena mereka enggan atau bahkan malu kepada Matahari yang saban hari memberikan teladan bagaimana seharusnya untuk berlaku adil kepada semua ciptaan.

Wahyu Wiji Wasesa


Kerajaan di ngarcapada tiba tiba dilanda pagebluk, termasuk negara hastina. prabu duryodana mengumpulkan mentri mentrinya di paseban agung. hadir patih snegkuni, raja anga karna, dan resi dorna. raja duryodana bertanya ada gerangan apa ini?kok pagebluk meraja lela?resi dorna menjawab mendapat wangsit dan berkata ada wahyu yang diturunkan dewata di pucak gunung argo piloso berupa wahyu wiji wasesa yang terkandung dalam sebuah tumbuhan bernama tumbuhan mandera kresna. siapa yang mendapat wahyu itu akan diliputi kesentosaan. raja duryodana gembira dan mengutus patih sengkuni membarengi resi dorna ke argo piloso untuk mengambil wahyu wiji wasesa. kurawa dipersiapkan, prajurit bersenjata hastina berangkat ke argo piloso. sementara di argo piloso tampaklah resi begawan hanoman menghadap di depanya 3 satria putra pandawa yaitu gatotkaca, wisanggeni dan antareja. hanoman menyampaikan agar lengkap bisa menggayuh wahyu wiji wasesa harus bisa mengangkat panah dan memanahkannya ke pohon mandero kresna. tapi untuk itu diminta putra pandawa lengkap dengan menghadirkkan raden abimanyu. gatotkaca segera melesat mencari abimanyu
rombongan hastina tiba, dan di hadapi oleh antareja dan wisanggeni, rombongan kurawa kocar kacir. resi dorna mengambi akan bulus, meraga sukma hendak mencuri wahyu. dalam bentuk sukma resi dorna melihat dua bungkusan, dan dia ambil yang terbagus. lalu dibawa pulang dengan keyakinan wahyu telah didapat. pasukan kurawa dimundurkan kembali ke kerajaan.
abimanyu menghadap eyang abiyasa meminta petunjuk bersama punokawan, dan disuruh segera pergi dengan petunjuk akan datang saudara yang akan menunjukan jalan. maka punakawan dan abimanyu menuruni bukit. ketemu rombongan raksasa dan terjadilah perang besar. abimanyu berhasil memukul mundur wadya bala raksasa. kemudian bertemu gatotkaca, dan diajak segera ke argo piloso untuk mengambil wahyu wiji wasesa. abimanyu menurut karena sesuai wangsit yang dia terima, yaitu akan datang saudara yang memberi pertolongan. keraton ngamarta terlihat puntadewa murung, demikian juga werkudoro dan nakulo sadewa, karena adanya pagebluk besar dan hilangnya harjuna. sekonyong konyong datanglah setyaki patih dwarawati, meminta bantuan, karena pagebluk dan hilangnya sri kresna. puntodewo ahirnya mengutus werkudoro mencari kresna dan harjuna. werkudoro berangkat, dikisahkan sekali melangkah wekudoro mampu menempuh jarak begitu jauh karena aji ajinya.saat melangkah dia melihat ada cahaya begitu indah di sebuah bukit dan dia segera bergegas kesana. di khayangan wisnu menghadap betara guru, disana ada juga bhatara narada. wisnu bertanya siapa yang akan dia bela dalam bharata yudha?dijawab oeh bhatara guru orang yang membangun dan memakmurkan dunia, wisnu lalu bertitah, siapa yang menyusulku itu yang akan saya ikuti. tiba tiba datanglah jisnu. jisnu melapor ke bhatara guru untuk mengajak bhatara wisnu pulang karena pagebluk besar di akibatkan naiknya wisnu ke kayangan dan meninggalkan ngarcapada. wisnu menolak, jisnu memaksa, jisnu menyeret kakaknya wisnu keluar dan terjadi keributan. bhatara narada melempar angin garuda, dan wisnu serta jisnu kembali jatuh ke ngarcapada. wisnu masuk ke tumbuhan mandera kresna, sementara jisnu masuk ke busur panah. sementra itu tibalah werkudoro di argo piloso menemukan adanya antaredja dan hanoman, hanoman menecritakan adanya wahyu wiji wasesa, dan werkudoro berkenan menyoba. ternyata panah itu tak mau dipegang werkudoro. hanoman menenangkan kekecewaan werkudoro dan menyuruh werkudoro untuk tenang menunggu datangnya putranya gatot dan ponakanya abimanyu.
 abimanyu datang bersama gatot dan punakawan, abimanyu memegang panah dan memanah pohon andero kresna. sudah tiba saatnya takdir dewata. pohon berubah prabu kresna, panah berubah harjuna, dan wahyu masuk ke tubuh abimanyu. maka bergembiralah semuanya. abiamanyu lah yang ebrhak menitiskan wiji pengayom di tanah jawa.
keraton hastina, raja duryodana senang, karena dorna katanya berhasil mengambil wahyu. ternyata ketika wadah dibuka isinya wisanggeni, wisanggeni mengutuk resi dorna, atinya dalam keadaan ruh tak wajar pada bharata yudha. karena malu resi dorna mengutuk wisanggeni tak bakal ikut dalam bharata yudha. duryodana marah dan menyerang ngamarta. pasukanya dipukul oleh werkudoro. keadaan kembali tenang
tancep kayon

Brajamusti

Brajamusti adalah salah seorang paman Gatotkaca,karena ia adalah adik Dewi Arimbi.Ia anak keempat Prabu Trembaka,raja Pringgandani,yang mati terbunuh ketika berperang melawan Prabu Pandu Dewanata.Abangnya yang sulung,Prabu Arimba,juga mati dibunuh Bima.Kakaknya yang nomor dua,Dewi Arimbi,menjadi istri Bima,dan sekaligus mewarisi tahta Kerajaan Pringgandani.Kakaknya yang nomor tiga,Brajadenta,ternyata kemudian memberontak ketika Dewi Arimbi mewariskan singgasana pada Gatotkaca.
Brajamusti tidak menyetujui pemberontakan yang dilakukan Brajadenta itu.Ia menentangnya,sehingga keduanya terlibat dalam peperangan,dan mati sampyuh.Keduanya tewas bersama-sama.Namun sebelum tewas,Brajamusti sempat menyadarkan abangnya bahwa perbuatannya itu keliru.Karena itu arwah kedua raksasa itu lalu menyusup masuk ke tubuh Gatotkaca.Brajadenta menempati telapak tangan kanan,sedangkan Brajamusti menyusup ke telapak tangan kiri.Dengan penyusupan ini,membuat kesaktian Gatotkaca menjadi bertambah.

BATARA DARMA

Batara Darma dikenal sebagai dewa yang bertugas menjaga tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia pewayangan.Dewa inilah yang sebenarnya ayah biologis Puntadewa,atas izin Prabu Pandu Dewanata,istrinya yang bernama Dewi Kunti menerapkan ajian Adityarhedaya untuk mengundang para dewa.Dewa yang pertama dipanggil adalah Batara Darma ini.
Suatu ketika,dalam melaksanakan tugas menjaga keadilan Batara Darma pernah bertindak kurang bijaksana,sehingga ia dikutuk oleh Resi Animandaya.Pertapa sakti itu merasa diperlakukan tidak adil,dan ketika kemudian ia menuntut keadilan,Batara Darma tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan.Karena adanya kutukan ini Batara Darma harus menjalani kehidupan sebagai manusia pincang yang dilahirkan dari wanita berdarah sudra,akhirnya Batara Darma menitis pada Yama Widura,anak bungsu Abiyasa,yang lahir dari seorang dayang bernama Drati.
Batara Darma pernah melindungi Dewi Drupadi,ketika istri Puntadewa itu hendak ditelanjangi oleh Dursasana.Waktu itu setelah Pandawa ditipu dan kalah main judi dengan para Kurawa,Dewi Drupadi dianggap sebagai barang taruhan yang dimenangkan oleh Kurawa.Di hadapan banyak orang,Dursasana mencoba melepas kain yang dikenakan Dewi Drupadi,namun selalu gagal.Setiap kali kain yang dikenakan dilepaskan dari tubuh Drupadi,saat itu pula secara gaib tubuh Drupadi terlapisi oleh kain yang lain,berkat pertolongan Batara Darma.
Setelah itu,menjelang berakhirnya masa pembuangan Pandawa di hutan Kamiyaka,Batara Darma datang menguji rasa keadilan Puntadewa,anaknya.Dewa itu menyaru sebagai raja gandarwa dan membunuh adik-adik Puntadewa satu persatu.Ia lalu mengajukan berbagai pertanyaan ujian pada Puntadewa yang ternyata dijawab dengan sangat memuaskan.Ketika Puntadewa disuruh memilih mana diantara adik-adiknya yang akan dihidupkan kembali,Puntadewa pun menjawab dengan pertimbangan keadilan yang matang.Karena jawaban Puntadewa yang memuaskan ini,raja gandarwa lalu berubah ujud menjadi Batara Darma,dan keempat adik Puntadewa dihidupkan kembali.
Menjelang kematian Pandawa,Batara Darma juga menjelma menjadi anjing peliharaan Puntadewa.Anjing itu terus mengikuti perjalanan Pandawa dalam perjalanan kelana menjemput kematian dan mengantar Puntadewa sampai ke pintu sorga.Namun ketika Puntadewa hendak masuk ke sorga,oleh penjaga gerbang sorga anjing itu dilarang masuk.Karena penolakan itu Puntadewa lalu protes,Puntadewa enggan masuk ke dalam sorga yang tidak menghargai sebuah kesetiaan.Pada saat itulah si anjing berubah ujud menjadi Batara Darma.Menurut kitab Mahabarata,Batara Darma adalah putra Sang Hyang Atri,cucu Batara Brama.

Batara Candra


Batara Candra adalah salah seorang putera Batara Ismaya dengan ibunya bernama Dewi Kanastren,sedangkan istrinya berjumlah 27 orang.Mereka itu kakak beradik putera Sang Hyang Daksa.Dalam pewayangan dikatakan Batara Candra adalah dewa yang bertugas mengatur dan memelihara rembulan serta sinarnya.Batara Candra termasuk yang disebut-sebut dalam Hastabrata sebagai dewa yang harus diteladani sifat-sifatnya oleh raja yang bijaksana dan selalu bersikap menyenangkan orang banyak.
Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang raja siluman gandarwa bernama Prabu Kala Rahu alias Rembuculung yang hendak mencuri Tirta Amerta.Kala Rahu bersembunyi di kegelapan malam,tetapi Batara Candra memergokinya dan melaporkan tempat persembunyiaan itu pada Batara Guru.Pemuka Dewa itu lalu mengutus Batara Wisnu menangkap Kala Rahu.Namun ketika hendak ditangkap,raja siluman itu melawan.Dengan senjata cakra,Batara Wisnu memotong kepala Kala Rahu.Tubuhnya jatuh terhempas ke bumi menjelma menjadi lesung penumbuk padi.Sementara itu kepalanya melayang-layang di angkasa menanti kesempatan membalas untuk menghukum Batara Candra.Itulah yang menimbulkan legenda gerhana rembulan,yang menyebabkan di masyarakat pedesaan di Jawa Tengah,Jawa Timur dan Bali,orang memukul-mukul lesung bila terjadi gerhana bulan,yang dipercaya untuk menghalau Kala Rahu.